Lama sudah aku tidak menulis di blogku, sudah setahun lebih. Aku pikir saatnya kembali lagi menulis di blog. Mungkin saja ini yang terakhir, tapi ku harap bukan.
Aku teringat kisah 4 tahun lalu, masa-masa yang paling sulit dalam hidupku. Kenapa baru sekarang aku cerita? karena aku pikir sudah saatnya teman-temanku tahu tentang hal ini.
18 Juli 2006, bapaku menghembuskan napasnya yang terakhir. Bapaku sudah 2 bulan terbaring tak berdaya. Padahal 20 Juli 2006 ada USM PI-DEL dimana aku sudah terdaftar sebagai pesertanya. Seyogianya 18 Julilah USM PI-DEL tapi diundur jadi 20 Juli. Tuhan punya rencana lain, karena klo USM PI-DEL tidak diundur, aku ga bakalan melihat bapaku di hari terakhir masa hidupnya.
“Aku tidak akan mengikuti ujian”, itulah kata-kata yang ku ucapkan ke mama dan abangku. Tapi mereka bilang “Kamu harus ikut ujian”. Aku berangkat ke Porsea 19 Juli 2006, untuk mengikuti USM PI-DEL, 20 Juli 2006 di kampus PI-DEL Sitoluama. Sepenting apakah kuliah itu hingga aku harus meninggalkan bapaku yang terbaring tak bernyawa? Sepenting apakah kuliah itu hingga aku harus meninggalkan keluargaku yang sedang dirundung kesedihan?
Malam harinya aku sendiri di Porsea di rumah itoku, karena besok aku harus mengikuti USM PI-DEL. Aku sangat sedih, aku kehilangan orang yang sangat aku kasihi. Orang yang selalu menasehatiku, membimbing aku. Dan disaat seperti ini Tuhan memanggil bapaku. Kenapa Tuhan?
20 Juli 2006 pagi, aku berangkat ke kampus PI-DEL di Sitoluama. Di sana aku bertemu dengan teman SMAku. Aku tidak memberitahukan kisah yang sedang aku alami. Mereka tidak perlu tahu, aku tidak ingin merepotkan mereka. Waktu ujian tiba, kami masuk ke auditorium untuk mengikuti ujian. Aku tetap berusaha fokus karena itulah tujuanku datang ke kampus PI-DEL untuk mengikuti ujian. “LULUS” itulah yang ada dalam benakku, aku tidak ingin perjalananku sia-sia. Aku optimis bisa lulus. Dan aku lulus.
Buat bapaku, aku sekarang sudah bekerja. Aku bisa kuliah karena perjuangan mama dan abang. Thanks for my brother “Romedi Siagian” and my mother “S. Hasibuan”. Perjuangan kalian tidak sia-sia. Bapa maafkan aku buat kompetisi yang gagal aku menangkan. Aku sudah berusaha, mungkin belum waktunya. Tujuanku adalah untuk mendapat beasiswa, tapi aku gagal. “Pendidikan butuh biaya”. Bapa maafkan aku karena aku tidak permisi saat aku barangkat ke Medan untuk mengikuti SPMB. karena kalau aku permisi, bapa tidak akan mengijinkan. Bapa begitu baik, bapa mengerti. Saat aku pulang dari Medan, ku kira bapa akan marah karena aku pergi tanpa permisi. Bapa, aku yakin lulus walaupun aku tidak ikut bimbingan. Bapa kalau aku lulus aku akan mendapat beasiswa untuk tahun pertama. Dan aku lulus tapi aku tidak mengambilnya, karena aku memilih PI-DEL.
Bapa aku masih merindukanmu walaupun tak mungkin lagi bapa kembali. Semangatku pudar disaat bapa sudah tiada. Semasa hidupmu aku belum bisa memberi apa-apa. Aku hanya bisa memandikanmu saat bapa sudah tidak bisa mandi sendiri, aku hanya bisa menyuapimu saat bapa sudah tidak bisa makan sendiri. Aku hanya bisa memijat tubuhmu yang kaku yang selalu berbaring karena bapa sudah tidak bisa berjalan sendiri. Bapa berbaring di tempat tidur 24 jam sehari. 7 hari seminggu sampai dua bulan. Aku hanya bisa memberikan sesendok air putih disaat bapa akan meninggalkan kami. Dan terakhir aku memandikanmu saat bapa sudah tidak bernyawa lagi. Aku masih ingat itu. 4 tahun lalu. Aku masih ingat saat bapa membisikkan pesan terakhir, yang tidak bisa ku dengar lagi, karena bapa sudah tidak bisa lagi berbicara di 1 jam terakhir. Aku yakin isi pesan itu “Burju-burju ho amang, ikkon hasea do ho haduan”.
Saat ini, apabila aku pulang aku hanya bisa melihat tempat peristirahatanmu yang terakhir di kebun yang dulu bapa pelihara, yang dulu kita pernah bekerja di sana.
Bapa disaat aku menulis ini, aku menitikkan airmata, airmata saat mengenangmu. karena bapa pantas untuk dikenang dan itu harus.
Buat teman SMAku maafkan aku karena aku tidak cerita ma kalian. Aku tidak ingin merepotkan kalian. Ku harap kalian sukses sekarang.
Bapa di Sorga, terimakasih buat berkat dan anugerahMu. Terimakasih karena Bapa senantiasa memberkati usaha keluargaku, khususnya usaha seorang Ibu yang baik hati, seorang pahlawan yang berjuang untuk membiayai kuliahku.
Recent Comments